Membumikan Tradisi Berjanjenan: Cara Terbaik Mengekspresikan Cinta Kepada Sang Kekasih

Saat ini kita telah memasuki bulan Rabi’ul Awwal, dimana pada bulan tersebutlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dilahirkan, menurut pendapat yang masyhur Rasulullah lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal pada tahun Gajah. Mengapa disebut tahun Gajah? Karena pada tahun tersebut terjadi peristiwa dimana raja Abrahah beserta pasukannya yang kala itu menyerang kota Makkah karena ingin merobohkan Ka’bah dengan menunggangi gajah. Berkat pertolongan Allah penyerangan itu gagal dan Ka’bah tidak jadi dirobohkan. Kala itu Raja Abrahah dan ribuan pasukannya mati tertembus batu kerikil yang dibawa sekawanan burung ababil dari neraka.

Sebagian umat Islam di Indonesia selalu menyambut gembira hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, kegembiraan itu digambarkan oleh lantunan shalawat dan puji-pujian atas Nabi yang selalu ramai terdengar dari masjid dan musholla. Dengan suara merdu, diiringi alunan nada rebana menjadikan bulan Maulid teramat spesial.

Sudah sewajarnya bila seseorang yang sedang jatuh cinta akan mengungkapkannya dengan berbagai cara, sama halnya dengan cinta umat Islam kepada Nabi Muhammad yang diekspresikan dengan melantunkan Sholawat dan puji-pujian, salah satunya dengan melaksanakan berjanjenan (membaca kitab Al-Barzanji). Karena sebagai umat Islam kita wajib mencintai Nabi Muhammad.

Al-Barzanji adalah kitab karangan “Syekh Ja’far bin Husain bin Abdul Karim al-Barzanji”. Beliau lahir di Madinah tahun 1690 M, dan wafat tahun 1766 M. Barzanji berasal dari nama suatu daerah di Kurdikistan Barzinj. Sebenarnya, kitab tersebut berjudul ‘Iqd al-jawahir (kalung permata), tapi kemudian lebih terkenal dengan sebutan al-barzanji. Kitab tersebut, menceritakan tentang sejarah Nabi Muhammad yang mencakup silsilahnya, perjalanan hidup semasa kecil, remaja, menginjak dewasa hingga diangkat menjadi Rasul. Selain itu, juga menyebutkan sifat-sifat Rasul, keistimewaan-keistimewaan dan berbagai peristiwa yang bisa dijadikan teladan bagi umat manusia. Dengan bahasa dan sastra yang tinggi menjadikan kitab ini enak dibaca. Di Indonesia, barzanji adalah kitab yang populer di kalangan orang Islam, terutama di Jawa. Kitab ini merupakan bacaan wajib pada acara-acara barjanjen atau diba’ yang menjadi tradisi bagi sebagian kaum muslim di Indonesia.

Banyak dari kalangan umat Islam yang menolak tradisi ini. Mereka menganggap bid’ah  karena  perbuatan tersebut tidak dilakukan Rasulallah SAW. Selain itu, barzanji hanyalah karya sastra, bukan menjadi rujukan sumber orang Islam seperti Al Qur’an dan Hadist. Jadi, mereka menolak dengan tegas terhadap tradisi tersebut. Namun, sebagian pihak menganggap pembacaan Al-barzanji adalah refleksi kecintaan umat terhadap figur Nabi sebagai pemimpin agamanya sekaligus untuk meneladani sifat-sifat luhur Nabi Muhammad SAW. Kecintaan pada Nabi berarti juga kecintaan, ketaatan kepada Allah SWT.

Perbedaan pendapat ini perlu dipahami secara cermat dengan pemahaman tajam dan pengetahuan tentang hadits yang mendalam, karena hampir seluruh umat Islam di Indonesia melestarikan tradisi Berjanjenan. Sebuah hadist Nabi riwayat Bukhari Muslim menyatakan,”Barang siapa melakukan amalan tidak sebagaimana sunnahku, maka amalan itu tertolak”. Wallahu ‘alam bisshowab. Hanya Allah yang maha mengetahui.

Di kota Kudus sendiri tradisi ini sudah menjadi bagian penting dari masyarakat desa maupun kota, bagi warga Nahdhiyyin (NU) khususnya. Berjanjenan (membaca kitab Al-Barzanji) tidak hanya dibaca di bulan Rabi’ul Awal saja, bahkan berjanjenan juga dilakukan dalam momen khajatan tertentu, seperti tasyakuran pernikahan, tasyakuran khitan (sunatan), tasyakuran kelahiran anak (puputan), tasyakuran rumah baru (uli-ulian), menggali sumur (nduduk sumur), dan lain-lain. Selain itu, berjanjenan juga sering dilaksanakan di Masjid dan Mushalla setiap malam jumat. Hal ini dilakukan oleh warga NU Kudus untuk membumikan berjanjenan sebagai cara terbaik untuk mengekspresikan cintanya kepada Nabi Muhammad.

Tradisi berjanjenan seharusnya menjadi spirit beragama bagi kaum muslim. Idealnya, barjanjenan bukan hanya menjadi kegiatan rutinitas saja. Esensi berjanjenan adalah spirit sejarah dan penyegaran ketokohan Nabi sebagai satu-satunya idola teladan yang seluruh ajarannya harus dibumikan. Berpijak dari situ, sudah saatnya umat Islam melestarikan tradisi tersebut. Karena melestarikan tradisi berjanjenan termasuk wujud bukti kecintaan kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW.

Oleh : Ahmad Syarif

Sumber: NU Online