Pandemi Bukan Panggung Komedi!

Ilustrasi Pandemi Bukan Panggung Komedi [Pelajarkudus/Ilham Azizi]

Oleh : Elisa Berti Cahaya Paramudita*

Pandemi Covid – 19 yang tengah melanda sebagian negara di dunia memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat. Bahkan melumpuhkan berbagai sektor, misalnya saja pada sektor perekonomian. Adanya pembatasan aktivitas diluar dan anjuran pemerintah yang mengharuskan untuk tidak berkerumun membuat berbagai perusahaan melakukan pengurangan karyawan secara besar – besaran. Sehingga banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan, dan mata pencahariannya.

Kapan Pandemi Berakhir?

Pertanyaan yang selalu muncul dibenak masyarakat yang mulai bosan dan resah dengan pandemi. Formula demi formula yang pemerintah berikan bukan lantas memberikan kenyamanan bagi masyarakat, akan tetapi menjadikan masyarakat semakin resah bahkan capek dengan segala tingkah yang dilakukan oleh para jajaran pemerintah. Adanya Social Distancing, Physical Distancing dan pembatasan – pembatasan lainnya tidak lantas membuat masyarakat patuh, namun sebagian masyarakat berani membuat perkumpulan, rekreasi, jalan – jalan ke mall.

Lebih parahnya lagi ada sebagian dari mereka yang keluar tidak menggunakan masker seperti protokol kesehatan yang pemerintah berikan. Lalu masih saja menanyakan kapan pandemi ini berakhir? Sebenarnya jawaban itu sudah ada didalam diri masyarakat sendiri, jika ia patuh maka semakin membantu para tenaga medis untuk cepat beristirahat, kembali ke kehidupan normal.

Dalam sebuah paper bertarikh 1990 yang berjudul The Anthropology of Infectious Disease, dijelaskan bahwa “penyakit menular merenggut lebih banyak nyawa dibandingkan gabungan korban meninggal dari perang, penyakit tidak menular, dan bencana alam.”. Karena pada dasarnya penyakit menular seperti virus Covid -19 yang tengah melanda dunia ini dapat menular secara cepat, bahkan dengan atau tanpa gejala. Satu orang dapat menularkan lebih dari 3 orang, berbeda dengan virus flu Spanyol, dan Ebola, yang penyebarannya tidak semasif virus Covid -19 ini.

Darimana Virus Muncul?

SARS-CoV-2, virus di balik Covid-19, muncul di akhir tahun 2019 lalu di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Covid-19, wabah yang mengacaukan dunia saat ini, memang tidak lahir di negara miskin seperti perkiraan Bill Gates. Namun, kemunculannya ditanggapi dengan penanganan level negara-negara miskin. Musababnya, dalam riset yang ditulis Prof. Chaolin Huang, hingga 2 Januari 2020, 41 orang terbukti secara laboratorium terjangkit virus yang melahirkan gejala mirip pneumonia tersebut. Sayangnya, kemunculan virus baru itu tidak ditanggapi serius oleh Pemerintah Cina. Bahkan, Li Wenliang, salah satu dokter pertama yang mengabarkan kemunculan virus baru itu, dianggap “bergosip” melalui WeChat oleh otoritas setempat. Sebelum akhirnya Wenliang meninggal karena penyakit yang ditimbulkan virus tersebut.

Julia Belluz dari Vox menulis, lambannya Cina menangani Covid-19 terjadi karena otoritas di Wuhan tidak memiliki cukup informasi tentang apa yang terjadi. Selain itu, Cina juga memiliki hierarki publikasi informasi yang rumit, khususnya terkait hal-hal yang sensitif. Situasi ini mirip seperti wabah SARS yang terjadi pada 2003 silam. Kala itu, Cina dikritik karena lamban merespon SARS hingga menyebabkan sekitar 774 jiwa tewas. Dan yang lebih mengkhawatirkan, sebagaimana diperkirakan Gates, Covid-19 juga menyebar dalam “senyap” mirip Flu Spanyol.

Banyaknya  orang yang keluar masuk Cina, menyebabkan satu persatu negara yang memiliki hubungan dengan Cina juga ikut merasakan virus ini. Bahkan negara adidaya sekalipun ikut tertular virus Covid – 19 ini, seperti Amerika Serikat dan Italia. Besarnya kasus di dua negara tersebut disusul oleh negara – negara berkembang lainnya, seperti Indonesia.

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Tugas pemerintah dan kita dalam menyelesaikan pandemi Covid-19 ini masih panjang. Penyelamatan warga dan menekan penyebaran virus covid – 19 menjadi fokus utama saat ini, kita berharap pandemi ini segera teratasi dengan tuntas sehingga pemerintah dengan dukungan semua pihak bisa segera memulihkan keadaan.

Sikap patuh masyarakat yang harus selalu diterapkan agar upaya yang dilakukan oleh pemerintah tidak sia – sia, seperti halnya rencana PPKM  yang akan segera usai namun masih saja tak kunjung diusaikan, rencana  mengganti sistem kegiatan pembelajaran Blanded. Ini semua tentu ada alasannya dan manfaatnya untuk kemaslahatan bersama.

Kita sebagai masyarakat yang baik dan taat  sepatutnya untuk mendukung hal ini, walaupun banyak pendapat yang mengatakan bahwa ini hanyalah konspirasi kaum elit untuk menjatuhkan perekonomian negara besar, namun kita sebagai masyarakat beriman percaya bahwasanya setiap penyakit ada obatnya, setiap kesusahan pasti ada jalan keluarnya dan setiap kejahatan pasti ada balasannya.

Krisis Kepercayaan Masyarakat

Berangkat dari beberapa keluhan masyarakat mengenai kurang sigapnya pemerintah menangani pandemik ini, menjadikan masyarakat tidak lagi mempercayai kebijakan – kebijakan yang telah ada, mereka seakan acuh dan tidak lagi mendengarkan anjuran pemerintah. Perpanjangan masa PPKM menjadikan masyarakat tidak lagi peduli akan pandemik ini, pembatasan  demi pembatasan yang terus diberikan  bukan  lagi menjadi solusi. Lagi – lagi pertanyaan masyarakat “Kapan  Pandemi ini Berhenti?”, seakan sudah lelah mendengar berita yang membuat masyarakat geleng kepala, mulai Korupsi Bansos, Kebijakan PPKM yang bias Demokrasi, dan masih banyak lagi.

Hal ini membuat negeri ini tidak ada bedanya dengan panggung komedi, kaum elit yang memegang kuasa  seakan kuat tapi tak bernurani, sedang rakyat kecil berjuang demi bertahan hidup ditengah pembatasan yang tak ada akhirnya. Menuntut keadilan sama saja berbicara dengan orang tuli yang enggan membuka mata.

 

*Penulis aktif di PAC IPPNU Kaliwungu sekaligus Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Kudus Tahun 2019.