Suara Forum OSIS Kudus Respon Problematika Sekolah Online

Sumber: Dokumen Istimewa

Pelajar Kudus – Forum OSIS KUDUS (FOK) adalah sekumpulan pengurus OSIS tingkat SMA sederajat di Kudus. Forum ini merupakan wadah bagi seluruh pengurus OSIS untuk saling berbagi pendapat, mengutarakan keluh kesah sesama pengurus dalam menjalankan kepengurusanya, serta mencari jalan keluar yang terbaik.

Berdasarkan hasil wawancara pelajarkudus kepada Vito, salah satu pengurus Forum OSIS Kudus. Dia menjelaskan sedikit banyak tentang kegiatan dari FOK ini dan juga keluh kesah yang dihadapi.

Sebagai seorang ketua, dia memegang tanggung jawab yang besar untuk mengarahkan para anggotanya, terlebih lagi masalah program kerja. Mereka harus bisa menyesuaikan program kerja apa yang sesuai dengan pelajar saat ini. Vito mengatakan bahwa program kerja yang menarik itu menyesuaikan kondisi yang ada.

“Apabila program yang dilaksanakan di masa pandemi seperti saat ini, program kerja yang menarik adalah event tentang game online, Jelas nya saat di wawancarai pelajarkudus.com

Di masa seperti ini banyak pelajar yang cenderung lebih menyukai game online. Game ini juga menjadi euforia tersendiri bagi mereka. Sasaran dari pelaksanaan event ini juga tidak susah, karena banyak para pelajar dan orang-orang pekerja yang menggunakanya. Akan tetapi, masalah perijinan menjadi hambatan tidak terealisasinya acara ini.

“Tidak hanya itu, dari dinas pun membatasi kita untuk mengadakan event seputar pendidikan saja,” tambahnya.

Sebagai seorang pelajar tentunya kita ingin mengetahui bakat dan minat kita. Dan OSIS disini membantu para pelajar dalam menyalurkan minat dan bakat mereka. Semua event pasti ada hal positif dan negatifnya.

Jika kita membuat event hanya seputar pendidikan tentunya para pelajar atau sasaran kegiatan akan merasa jenuh. Rencana ini merupakan awal gebrakan baru OSIS serta menambah eksistensi OSIS di kalangan para pelajar.  “Kita ingin memulai gebrakan baru, event baru yang menarik para pelajar serta menambah eksistensi osis, salah satunya Esport,” tutur Vito.

Selain itu, Vito mengungkapkan bahwa kegiatan yang menarik para pelajar, terutama dalam kegiatan OSIS ada 2 opsi, pertama adalah seni dan game. Pertama, kesenian ini seperti gebyar yang di dalamnya ada solo song, menari, dance, dan lainnya. Namun, opsi ini sepi peminatnya, karena kondisi saat ini untuk mengadakan acara secara tatap muka pun sedikit terhambat, sehingga mengakibatkan sepi peminat, biaya juga lebih besar (uang pembinaan, sarpras, dan lainya).

Kedua adalah game online, “tetapi pandangan sekolah tentang game itu masih sesuatu yang kekanak-kanakan, tidak ada edukasinya sama sekali”, kata Vito. Dan pandangan anak sekolah itu harus belajar dan belajar. Selain itu, terkadang seorang guru menilai kepandaian siswa itu dari segi hitung-menghitung. Untuk itu, adanya forum osis ini bertujuan untuk memberi wadah untuk para pelajar yang memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing, melatih softskill mereka.

Disamping itu, program OSIS yang paling diminati adalah piknik. “Dengan ini kita bisa have fun antar sesama pengurus sekaligus mempererat ikatan sesama pengurus”, tambahnya. Disisi lain kita juga bisa merasakan sesekali enjoy . Namun, dikarenakan pandemi saat ini kegiatan ini kebanyakan dibatalkan padahal hal ini merupakan yang paling diminati oleh siswa.

Melaksanakan sebuah kegiatan tentunya akan mendapat respon oleh parapelajar lainnya. “Dari kebanyakan siswa itu ingin OSIS memberikan sesuatu yang inovatif,” kata Vito. Akan tetapi dalam mewujudkan hal itu para pengurus OSIS terhalang perijinan, dan juga sistem sekolah. Diantara program kerja yang terlaksana yaitu mengadakan lomba khusus ekstra kulikuler, seperti olimpide, dance dan menari. Sayangnya selama 2 tahun terakhir kegiatan ini sudah berhenti karena adanya pandemi yang membatasi mobilitas kita untuk beraktifitas.

Program lain yang tidak kalah menarik dan bertujuan untuk mendukung literasi digital adalah kegiatan literasi selama lima belas menit. Kegiatan ini menginstruksikan para siswa untuk membaca dan menulis ringkasannya, buku yang dibaca bebas selain buku pelajaran. Hal ini bertujuan untuk menarik minat literasi para pelajar.

Vito mengatakan menurut survei dilapangan kebanyakan dari pelajar minat bacanya itu sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka membaca buku sesuai genre yang mereka sukai dan diluar buku seputar sekolah seperti novel, webtoon dan wattpad.

Akan tetapi kegiatan ini masih belum efektif karena belum menjadi kebiasaan para siswa. “Kegiatan literasi ini dirasa belum efektif karena tidak ada dorongan khusus atau paksaan, seperti sesuatu yang bersifat memaksa harus melakukannya sehingga menjadi suatu kebiasaan bagi mereka sendiri”, tambahnya.

Penulis: Aizzatun Nafisah