Setiap kali Idul Adha tiba, kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS, selalu menjadi sorotan utama. Namun, di balik kisah agung tersebut, terdapat sosok perempuan luar biasa yang sering terlupakan: Siti Hajar. Sebagai ibu dari Ismail, Hajar menunjukkan keteguhan hati dan keikhlasan yang luar biasa ketika ditinggalkan di padang pasir bersama bayinya, sebuah pengorbanan yang menjadi bagian integral dari sejarah kurban. Nyai Hj Badriyah Fayumi, Pengasuh Pesantren Mahasina Bekasi, menekankan bahwa peristiwa Idul Adha tidak lepas dari peran Siti Hajar yang penuh pengorbanan dan kepribadian luar biasa, selain itu menurut beliau Siti Hajar bukan sekadar tokoh pelengkap, tapi tokoh sentral yang berperan besar dalam sejarah Islam, khususnya dalam ritual sa’i, Ramyul Jumrah, dan kisah pengorbanan Ismail.
Perempuan dalam Ibadah Kurban
Dalam praktik ibadah kurban, perempuan memiliki peran yang setara dengan laki-laki. Mereka diperbolehkan untuk berkurban, baik secara individu maupun bersama keluarga. Perempuan juga memiliki hak yang sama dalam hal penyembelihan hewan kurban. Mereka dibenarkan untuk menyembelih hewan kurban jika mampu, meskipun dalam praktiknya, penyembelihan lebih sering dilakukan oleh laki-laki.
Lebih lanjut, perempuan dapat berperan aktif dalam berbagai aspek pelaksanaan kurban, mulai dari perencanaan, pemilihan hewan yang sesuai syarat, hingga distribusi daging kepada yang membutuhkan. Peran ini menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam ibadah kurban.
Refleksi dan Penguatan Peran Perempuan
Kisah Siti Hajar mengajarkan kita tentang keteguhan, keikhlasan, dan pengorbanan seorang perempuan dalam menghadapi ujian kehidupan. Dalam konteks modern, semangat ini dapat diimplementasikan dengan memperkuat peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pelaksanaan ibadah kurban.
Dengan memberikan ruang dan kesempatan yang setara, perempuan dapat lebih berkontribusi dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang menempatkan perempuan sebagai makhluk mulia dan setara dengan laki-laki, serta memiliki hak untuk beribadah, pendidikan, kepemilikan, dan partisipasi dalam Masyarakat.
Penutup
Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang menyembelih ego, keinginan, dan kepentingan pribadi demi kepatuhan kepada Allah SWT. Dalam semangat ini, mari kita renungkan kembali peran perempuan dalam sejarah kurban dan memberikan penghargaan yang layak atas kontribusi mereka. Dengan demikian, kita dapat membangun masyarakat yang lebih inklusif dan adil, sesuai dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Referensi :
- Fahmina Institute. (2021, 22 Juli). Perempuan dan Hari Raya Qurban. Fahmina.id.
https://fahmina.id/perempuan-dan-hari-raya-qurban - NU Online. (2023, 27 Juni). Nyai Badriyah Fayumi Ungkap Peran Siti Hajar dalam Sejarah Kurban.
https://nu.or.id/nasional/nyai-badriyah-fayumi-ungkap-peran-siti-hajar-dalam-sejarah-kurban-pj2py - Jurnal Perempuan. (2021, 20 Juli). Merayakan Kurban dengan Perspektif Perempuan.
https://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/merayakan-kurban-dengan-perspektif-perempuan - NU Online. (2022, 9 Juli). Perempuan Boleh Menyembelih Hewan?
https://islam.nu.or.id/syariah/perempuan-boleh-menyembelih-hewan-w9euH - NU Online. (2023, 28 Juni). Hukum Sembelihan Hewan oleh Perempuan.
https://nu.or.id/bahtsul-masail/hukum-sembelihan-hewan-oleh-perempuan-tw97i - Media Indonesia. (2023, 28 Juni). Perjuangan Perempuan dalam Sejarah Kurban.
https://mediaindonesia.com/opini/592975/perjuangan-perempuan-dalam-sejarah-kurban - Lazis Nurul Fikri. (2023). Peran Perempuan dalam Melaksanakan Ibadah Qurban. https://lazisnf.org/blog/peran-perempuan-dalam-melaksanakan-ibadah-qurban
Penulis : M. Ali Rifqi (Pelajar Kudus.com)
![Masjid Al-Aqsha Menara Kudus [doc. Asna Maulana]](https://pelajarkudus.com/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-06-at-14.01.33.jpeg)







