Kajian Hafidzah PC IPPNU Kudus: Dorong Hafidzah Aktif, Produktif, dan Tetap Istiqamah Muroja’ah

Pelajar Kudus – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Kudus menggelar kajian bertajuk “Hafidzah sebagai Aktivis Muslimah” di Gedung Assyarof MWC NU Kota Kudus, Jumat Wage, 31 Juli 2026, mulai pukul 12.30 WIB. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Mahasiswa IPPNU Kudus (Mahiku) ini menghadirkan dua narasumber perempuan sekaligus, yakni Dr. Hj. Hindun Anisah, M.A. dan Dr. Hj. Bakhita Aida, S.I.Kom., M.Sos., dan dibuka langsung oleh Ketua PC IPPNU Kudus, Rekanita Rizky Nailil Chusna.

Ketua PC IPPNU Kudus, Rekanita Rizky Nailil Chusna, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa IPPNU Kudus kini memiliki majelis baru yang pertama kali dibentuk di Kudus, khusus untuk mewadahi para hafidzah di kalangan pelajar mulai usia 18 tahun. Ia menjelaskan, pembentukan majelis ini bertujuan memberikan ruang bagi para hafidzah di Kudus agar dapat aktif dan produktif di lingkungan masyarakat, tanpa meninggalkan kebiasaan muroja’ah atau mengulang hafalan Al-Qur’an.

Pada sesi pertama, Dr. Hj. Hindun Anisah, M.A yang merupakan aktivis muslimah dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Jepara sekaligus Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memaparkan materi tentang karakter perempuan dalam Al-Qur’an. Ia menyebut tiga karakter utama yang perlu dimiliki, yaitu cerdas dalam arti mampu diwacanakan atau disuarakan, tangguh dalam menghadapi berbagai ujian hidup, serta independen atau mandiri, dalam arti memahami kebutuhan diri sendiri, mengenali nilai dirinya, dan tahu langkah yang harus ditempuh untuk mencapai apa yang dibutuhkan. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan bekal terbaik untuk membentuk karakter seorang pemimpin.

Dalam sesi tanya jawab pertama, salah satu peserta, Roudlotul Jannah, mengajukan pertanyaan seputar posisi perempuan dalam menyuarakan pendapat di ruang publik. Menjawab hal ini, Dr. Hindun menyampaikan bahwa perempuan boleh speak up atau bersuara di ruang publik, namun harus memperhatikan cara dan adabnya, serta memahami posisi, situasi, dan kondisi yang dihadapi.

Antusiasme peserta kajian

Sesi kedua bertema “Hafidzah Boleh Bermimpi Setinggi Langit” diisi oleh Dr. Hj. Bakhita Aida, S.I.Kom., M.Sos., seorang akademisi, muballighah, sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al Khoridah Kudus. Dalam paparannya, ia menyoroti dua hal utama yakni peluang pendidikan dan politik bagi perempuan. Ia menekankan bahwa perempuan harus memiliki karya sebagai bentuk pengamalan ilmu yang telah dipelajari, sebab ketika seorang manusia meninggal dunia, yang akan terus diingat adalah karya yang ditinggalkannya.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi tanya jawab kedua. Salah satu pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana cara meraih mimpi ketika kesempatan terasa sulit, bahkan mustahil, mengingat tidak semua orang memiliki privilese ekonomi yang memadai sehingga terkendala untuk melanjutkan pendidikan tinggi atau kuliah. Peserta juga menanyakan apakah ada jalan lain selain menempuh bangku kuliah untuk tetap bisa berkembang dan berkarya, beserta cara menempuhnya.

Mengakhiri acara, Lia Kamilatun Nikmah selaku pembawa acara menyampaikan bahwa dua sesi kajian tersebut membuka wawasan peserta bahwa menjadi hafidzah adalah hal yang luar biasa, dan bahwa keberanian untuk memimpin serta bermimpi tinggi merupakan paket lengkap yang harus diperjuangkan bersama-sama. Ia turut menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan selama memandu acara, serta mengucapkan terima kasih kepada kedua narasumber dan seluruh peserta yang hadir.

Reporter : I N A