Ketika Trotoar Kudus Berubah Jadi Ruang Berkarya

PelajarKudus_Trotoar biasanya hanya dilewati orang untuk berjalan kaki. Namun, Minggu sore itu suasananya berbeda. Kertas terbentang, pensil dan alat gambar mulai bergerak, sementara puisi dibacakan di tengah ruang publik.

Trotoar seketika berubah menjadi ruang berkesenian.

Pemandangan tersebut terlihat dalam kegiatan Titik Temu Part 2 yang digelar Lesbumi Kabupaten Kudus bersama komunitas Kudus Sketch, Ahad (27/9/2026) mulai pukul 15.30 WIB. Sekitar 40 peserta turut ambil bagian dalam kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-477 Kabupaten Kudus.

Mengusung tema “Semangat Urup Nguripi Kudus, Menggambar Wajah Kota Menuliskan Ingatannya”, kegiatan ini tidak sekadar mengajak peserta menggambar dan membaca puisi. Mereka juga diajak melihat kembali Kudus melalui ruang yang setiap hari mereka lewati.

Yang menarik, kegiatan tidak dilakukan di dalam gedung, galeri, maupun panggung pertunjukan. Para peserta justru berkarya di pinggir jalan, tepatnya di trotoar.

Satu per satu peserta menuangkan apa yang mereka lihat dan rasakan melalui karya. Ada yang sibuk menggambar, ada pula yang menyampaikan gagasan melalui puisi. Antusiasme peserta membuat ruang publik tersebut terasa lebih hidup.

Bagi Lesbumi, semangat Urup Nguripi tidak berhenti pada slogan peringatan hari jadi. Semangat itu diterjemahkan melalui karya yang dapat menghidupkan kembali ruang dan ingatan tentang Kudus.

Ketua Lesbumi Kabupaten Kudus, Abu Hasan Asy’ari, menekankan pentingnya anak muda untuk terus menghasilkan karya. Menurutnya, karya dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari grafis, lukisan, lagu, hingga syiar.

“Anak muda harus sering berkarya, bisa lewat grafis, lukis, lagu, syiar, dan lain-lain. Tanpa karya, kota kita akan mati. Posisi kita juga tanpa karya tidak akan dikenang. Karena itu, jangan sungkan untuk berkarya,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu ruh dalam kegiatan Titik Temu Part 2. Kota tidak hanya dibangun melalui gedung dan infrastruktur, tetapi juga melalui gagasan dan karya orang-orang yang hidup di dalamnya.

Ketua Kudus Sketch, Riska, juga mengapresiasi konsep kegiatan yang menggunakan ruang publik sebagai tempat berkarya. Menurutnya, kegiatan seni tidak harus selalu dilakukan di ruang formal.

“Kalau dari saya senang banget. Dengan adanya acara ini kita bisa memanfaatkan ruang sekitar kita. Sebagai kata-kata pengingat, tidak harus menggunakan ruang yang formal dan bisa juga dengan kegiatan seperti ini,” katanya.

Ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada Titik Temu Part 2, tetapi dapat terus berkembang dan dilestarikan.

“Semoga acara kayak gini tambah berkembang dan lebih sering dilestarikan,” harapnya.

Karya-karya yang lahir bukan sekadar gambar dan puisi. Ada cara pandang peserta terhadap Kudus yang ikut dituangkan di dalamnya.

Sebab, sebuah kota tidak hanya memiliki bangunan untuk dilihat dan jalan untuk dilewati. Kota juga memiliki cerita untuk diingat dan karya untuk ditinggalkan.

Penulis : Choiruzzakya
Editor : NH