PelajarKudus.com_Ribuan orang memadati kawasan Menara Kudus setiap kali tradisi Buka Luwur Sunan Kudus digelar. Di antara berbagai rangkaian acara yang sarat nilai religius dan budaya, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu masyarakat, yakni pembagian Nasi Jangkrik.
Bagi sebagian orang, Nasi Jangkrik mungkin hanya terlihat seperti nasi bungkus biasa. Namun bagi warga Kudus dan para peziarah, hidangan sederhana berisi nasi, daging kerbau, serta srundeng itu menyimpan sejarah panjang tentang toleransi, kebersamaan, dan ajaran Sunan Kudus yang terus hidup hingga kini.
Sebagai bagian dari liputan tradisi Buka Luwur, tim jurnalis pelajar mewawancarai sejumlah pengunjung yang datang ke Menara Kudus. Salah satunya, Faiq, yang mengaku selalu menyempatkan hadir setiap tahun.
“Buka Luwur bukan hanya tentang mencari berkah. Yang membuat saya selalu datang adalah suasana kebersamaan. Orang-orang berziarah, berdoa, lalu duduk bersama menunggu pembagian Nasi Jangkrik tanpa memandang latar belakang,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Iqbal. Menurutnya, pembagian Nasi Jangkrik memang menjadi momen yang paling dinanti masyarakat. Namun, ia menilai ada rangkaian lain yang tak kalah penting.
“Selain antre Nasi Jangkrik, saya juga menunggu Bahsul Masail. Di sana dibahas persoalan-persoalan keagamaan dan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” tuturnya.
Di balik ramainya antrean tersebut, Nasi Jangkrik memiliki filosofi yang erat dengan ajaran Sunan Kudus. Lauk daging kerbau dipilih sebagai simbol penghormatan terhadap masyarakat Hindu pada masa itu. Sunan Kudus dikenal mengajarkan dakwah yang mengedepankan toleransi dan menghormati keyakinan orang lain, salah satunya dengan tidak menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang hidup di tengah masyarakat.
Suasana Buka Luwur pun semakin terasa khidmat ketika bedug besar peninggalan Sunan Kudus ditabuh. Dentuman bedug menjadi penanda dimulainya prosesi penggantian luwur atau kain mori penutup makam Sunan Kudus, sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun.
Di luar kompleks makam, denyut kehidupan masyarakat juga ikut terasa. Pedagang memenuhi sepanjang jalan menuju Menara Kudus, peziarah berdatangan dari berbagai daerah, sementara serambi masjid dipenuhi jamaah yang mengikuti pengajian dan doa bersama.
Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Buka Luwur menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, budaya, dan nilai-nilai Islam yang diwariskan Sunan Kudus. Tradisi ini mengajarkan bahwa keberkahan bukan hanya diperoleh dari sepotong Nasi Jangkrik, melainkan dari semangat berbagi, menghormati perbedaan, serta menjaga persaudaraan yang terus hidup di tengah masyarakat.
Itulah sebabnya, setiap kali Buka Luwur digelar, masyarakat tidak hanya datang untuk membawa pulang sebungkus Nasi Jangkrik. Mereka juga pulang membawa pesan bahwa warisan terbesar Sunan Kudus bukan sekadar tradisi, melainkan nilai toleransi dan kemanusiaan yang tetap relevan hingga hari ini.
Kelompok 2
![Masjid Al-Aqsha Menara Kudus [doc. Asna Maulana]](https://pelajarkudus.com/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-06-at-14.01.33.jpeg)








Leave a Review