PelajarKudus.com_Ratusan penonton memadati Aula Balai Desa Jati Wetan pada Sabtu malam, 25 Oktober 2025 untuk menyaksikan Pentas Produksi ke-4 Teater Pith-U PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Jati. Acara bertajuk “Laku 4 Sak Wengi” ini menghadirkan empat penampilan dalam satu malam. Acara berlangsung secara meriah pukul 20.10 WIB.
Diperkirakan hadir sebanyak 295 orang, terdiri dari 268 penonton dan 27 tamu undangan yang berasal dari berbagai kalangan: pembina, alumni, pengurus ranting se-Kecamatan Jati, tokoh masyarakat, media partner, hingga orang tua para pemain. Antusiasme penonton pun menunjukkan besarnya dukungan masyarakat terhadap kegiatan seni pelajar di wilayah Jati.
Setelah pembukaan, panggung dibuka oleh penampilan tari “Lestari Alamku”. Tarian ini membawa pesan penting tentang menjaga kebersihan lingkungan sekitar kita/yang kita tinggali. Ajakan untuk lebih peduli sampah dan kebersihan sekitar tersampaikan lewat bahasa seni yang indah.
Berlanjut dengan penampilan puisi berjudul “Asa yang Kembali Aku Kenal” dan “Bangkit”. “Jadi, puisi yang aku bacakan berjudul bangkit, mempunyai makna agar kita tetap lebih semangat dalam menghadapi kegagalan atau tekanan hidup. Kalau gagal, maka bangkit lagi,” ujar rekanita Savira saat ditemui setelah pentas.
Kemudian, dari rekanita Hafsah yang membacakan puisi berjudul “Asa yang Kembali Aku Kenal” mempunyai garis besarnya tersendiri mengajak penonton untuk lebih mengenali dirinya sendiri. Kedua puisi tersebut terasa mengena bagi para pelajar yang hadir malam itu, seolah menyampaikan bahwa perjalanan tumbuh itu tidak mudah, namun tetap harus diperjuangkan dan terus bangkit, lagi, dan lagi.

Sebelum memasuki acara inti, penampilan geguritan yang disampaikan oleh rekan Ilham juga turut meramaikan acara. “Lembaran-Lembaran Kamardhikan” menceritakan perihal perenungan dan kegelisahan seorang veteran pejuang kemerdekaan terhadap kondisi bangsa di masa kini.
Puncak acara malam itu adalah penampilan teater “Lorong Hantu”, kisah berhantu bertema bullying di sekolah. Kisah “Lorong Hantu” merupakan adaptasi novel yang berjudul “Hantu Galau” karya Mpok Mercy Sitanggang. Suasana tegang dan kejutan demi kejutan berhasil menghidupkan respon penonton—ada yang kaget, teriak kecil, namun tetap menikmati setiap adegan. Genre horor ternyata membawa pengalaman baru bagi para penoton yang hadir.
Usai pertunjukan, suasana makin hangat dengan adanya photobooth yang langsung diserbu penonton begitu juga tamu undangan. Mereka bergantian berfoto bersama pemain yang masih mengenakan riasan horor maupun dengan properti menarik di lokasi acara.
Melalui rangkaian penampilan ini, “Laku 4 Sak Wengi” tidak hanya menghadirkan hiburan malam minggu, tetapi juga mengajak generasi muda untuk peduli lingkungan, mengenali diri, memperkuat mental, dan lebih peka terhadap isu perundungan di sekolah.
Kontributor : Ana Yunia Sari
![Masjid Al-Aqsha Menara Kudus [doc. Asna Maulana]](https://pelajarkudus.com/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-06-at-14.01.33.jpeg)







