Ngaji Jinabat Bareng Mbah Sholah: Belajar Fikih, Jaga Diri

Pelajar Kudus_Selasa malam Rabu, 5 Agustus 2025, pelajar dari Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Jepang bersama santri dan santriwati Yayasan Al-Kamal mengadakan kegiatan ngaji bareng di serambi Masjid Roudhotul Jannah, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Sholahuddin sebagai narasumber yang membahas bab mandi jinabat dalam kajian fikih. Acara ini menjadi bagian dari agenda rutin untuk meningkatkan pemahaman keagamaan sekaligus menjaga adab kesucian dalam beribadah.

Puluhan pelajar mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Suasana malam yang tenang dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk mendalami ilmu yang kerap dianggap tabu oleh sebagian orang. Dalam penyampaiannya, Ustadz Sholahuddin menegaskan bahwa mandi jinabat merupakan syarat sahnya ibadah bagi seorang muslim setelah mengalami hadas besar.

“Ilmu itu tidak pernah hina. Kitalah yang harus beradab saat menuntutnya. Meskipun kelihatan vulgar, fikih itu membahas sesuatu demi menjaga kesucian,” ujar beliau.

Beliau menjelaskan tata cara mandi jinabat secara terperinci—mulai dari niat, mencuci tangan, membersihkan kemaluan, berwudu, hingga menyiram seluruh tubuh. Penjelasan disampaikan secara runtut agar para pelajar tidak sekadar hafal, tetapi juga memahami urgensi dari setiap langkah yang dilakukan.

Selain menjelaskan hukum fikih, Ustadz Sholahuddin juga menyisipkan nasihat tentang pentingnya menjaga pergaulan di kalangan remaja. Ia mengingatkan agar pelajar tidak terjerumus dalam hubungan yang belum halal.

“Zina itu berawal dari hal-hal yang dianggap sepele: dari chat, jalan bareng, sampai pegangan tangan. Kalau memang serius, tunggu saatnya. Jangan salah jalan dengan dalih cinta atau komitmen,” pesannya.

Salah satu kalimat beliau yang membekas di hati peserta malam itu adalah:

“Manusia bisa berubah dan meninggalkan kita, tapi ilmu tidak. Ilmu itu setia. Ia tidak akan mengkhianati.”

Kalimat tersebut membuat banyak peserta terdiam sejenak, merenungi arti sejati dari menuntut ilmu.

Kegiatan ini menjadi ruang muhasabah yang tidak hanya menambah wawasan keagamaan, tetapi juga menyadarkan para pelajar akan pentingnya menjaga diri dan meluruskan niat dalam belajar. Di akhir acara, sebagian peserta tampak masih antusias berdiskusi langsung dengan Ustadz Sholahuddin.

Melalui kegiatan ini, pelajar PR IPNU-IPPNU Desa Jepang membuktikan bahwa ngaji bukan sekadar rutinitas, melainkan proses pembentukan karakter dan kedewasaan berpikir. Ketika ilmu disampaikan dari hati, insyaallah ia pun akan sampai ke hati.

Kontributor : Cerina Geandra Andriani