Bulan Muharam baru memasuki hari kedelapan ketika kawasan Menara Kudus telah dipenuhi ratusan peziarah sejak dini hari tadi (23/06). Di bawah cahaya kuning yang masih menyala, mereka datang dari berbagai daerah membawa doa, harapan, dan tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Matahari belum sepenuhnya terbit, ketika langkah para peziarah telah terlebih dahulu memenuhi kawasan Menara Kudus. Udara pagi yang dingin tak menghalangi mereka yang datang dari berbagai daerah untuk melangkah menuju salah satu pusat wisata religi di Jawa Tengah itu.
Sebagian mereka mengenakan atribut dengan warna khas kelompok masing-masing, mulai dari hitam, coklat, ungu, hingga hijau. Sebagian lainnya datang bersama keluarga, berjalan perlahan sambil menggandeng anak-anak dan kerabat menuju area makam.
Lantunan doa dan bacaan tahlil terdengar bersahutan ketika mendekati pelataran makam. Para peziarah duduk berdampingan tanpa memandang asal daerah. Sebagian khusyu membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, sementara yang lain menengadahkan tangan, memanjatkan doa untuk keluarga dan orang-orang tercinta.
Bulan pertama dalam kalender Hijriah menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, refleksi diri, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tak heran jika ratusan orang rela menempuh perjalanan jauh demi memanjatkan doa di kompleks makam salah satu Wali Songo tersebut. Hal ini juga turut dikonfirmasi oleh salah satu penjaga Menara Kudus, Zaqy mengkonfirmasikan 90% peziarah berasal dari luar Kudus.
Di antara ratusan peziarah yang datang pagi itu, Pak Sa’dun berjalan bersama istrinya menuju pelataran makam. Bagi pria tersebut, perjalanan ke Menara Kudus bukan sekadar agenda wisata religi, melainkan bagian dari tradisi keluarga yang telah dijaga selama bertahun-tahun.
Pria itu berhenti sejenak di pelataran makam. Pandangannya menerobos keramaian, seakan sedang menelusuri kembali jejak masa kecil yang pernah ia lalui.
“Suasana menara kudus itu selalu teduh, tenang, dan sakral. Dulu saya masih ingat, setiap kenaikan kelas dan bulan Muharram, saya selalu ziarah ke sini. Bikin hati adem dan sudah jadi tradisi keluarga juga,” ucapnya sambil tersenyum tipis.
Kenangan yang tersimpan dalam benak Sa’ud, menjadi potret kecil hubungan masyarakat dengan Menara Kudus. Benang merah itu terjalin bersama sulaman waktu, ia diwariskan dari orang tua kepada anak-anaknya.
Di bawah bayang-bayang menara yang menjadi simbol akulturasi budaya dan dakwah Islam di tanah Jawa, ziarah ini bukan hanya sebagai destinasi wisata religi, tetapi juga ruang spiritual tempat masyarakat merawat tradisi, mengenang sejarah, dan memperkuat hubungan dengan nilai-nilai keislaman yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Setelah memanjatkan doa, Pak Sa’dun dan istrinya melangkah meninggalkan pelataran makam. Keramaian peziarah perlahan menghilang di belakang mereka. Saat langkahnya menjauh dari kerumunan, sesekali ia melihat ke belakang. Menara Kudus berdiri kokoh di kejauhan. Di atasnya, matahari mulai terbit sempurna, memancarkan cahaya kuning yang menyelimuti kawasan bersejarah itu. Sekali lagi, Muharram kembali menghadirkan wajah khas Menara Kudus.
KELOMPOK 1 :
Astrid Kanza Azzahra | Halwa Nafisah Azzahra | Sarifa Nur Andriani | M. Ashhabil Yamin | Sweeta Mauline | Muhammad Maulana Prayoga
![Masjid Al-Aqsha Menara Kudus [doc. Asna Maulana]](https://pelajarkudus.com/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-06-at-14.01.33.jpeg)








Leave a Review