PelajarKudus.com_Matahari baru saja merekah ketika aroma martabak mulai memenuhi area depan Menara Kudus. Di sela langkah ratusan peziarah yang datang untuk berziarah, bunyi minyak mendesis bersahut-sahutan dari deretan lapak kuliner yang telah lebih dulu membuka hari.
Kotak-kotak jenang disusun rapi di etalase. Penjual sempol sibuk membolak-balik sempolan di atas penggorengan, sementara pedagang oleh-oleh sesekali menawarkan barang jualannya kepada peziarah yang melintas. Ramainya kawasan Menara Kudus bukan hanya menghadirkan lalu lalang wisatawan, tetapi juga menghidupkan denyut ekonomi puluhan pedagang kecil yang menggantungkan nafkah di sana.
Di antara deretan lapak itu, satu kerumunan tampak paling mencolok. Pembeli berdiri mengelilingi sebuah gerobak sederhana tanpa banyak menyisakan ruang. Dua perempuan di baliknya nyaris tak berhenti menggerakkan tangan. Adonan tepung dituangkan ke dalam cetakan panas, telur puyuh dipecahkan satu per satu, lalu martabak mungil dibalik hingga berwarna keemasan.
Martabak telur puyuh itu lebih dikenal masyarakat sebagai Martabak Menara, salah satu jajanan yang hampir selalu diburu peziarah sebelum meninggalkan kawasan Menara Kudus.
Di balik kesibukan itu berdiri Muznah dan Muawanah. Selama lebih dari lima belas tahun, keduanya menghidupi keluarga dari wajan cetakan. Bagi mereka, ramainya peziarah bukan sekadar keramaian wisata religi, melainkan napas yang menjaga usaha kecil mereka tetap hidup.
Namun, mereka bukan satu-satunya yang hidup dari denyut kawasan Menara Kudus. Di deretan toko oleh-oleh, Umi turut menjaga warisan kuliner khas daerah melalui berjualan Jenang Kudus. Hampir sepanjang deret pertokoan dipenuhi penjual yang menawarkan produk serupa. Lapak jenang berdiri berdampingan tanpa sekat, membuat persaingan semakin ketat. Di tengah rapatnya kompetisi itu, perempuan yang telah berjualan sekitar empat tahun itu memilih mempertahankan pelanggan melalui kualitas rasa yang konsisten. “Kualitas adalah kunci agar pembeli kembali,” Ujarnya.
Tak jauh dari sana, di antara deretan gerobak jajanan, Rif’an tetap tersenyum melayani pembeli pentol. Walaupun pendapatan sehari tidak menentu karena tergantung dengan banyaknya jumlah pengunjung, ia tidak ambil pusing. “Rezeki wis ono sing ngatur,” ucapnya dengan senyum tipis. Meskipun begitu, wajah lelah tidak bisa disembunyikan, tapi Rif’an tetap membuka lapak dan menanti langkah-langkah peziarah berhenti membeli.
Cerita serupa juga dimiliki Haris (37) Dari gerobak es teler sederhana, ia menghidupi keluarga kecilnya dengan mengandalkan ramainya kawasan Menara.
Bagi banyak orang, Menara Kudus mungkin dianggap sebagai tujuan wisata religi dan warisan sejarah yang tak pernah sepi pengunjung. Namun, dibalik kemegahan menara yang telah berdiri selama berabad-abad ini, ada denyut kehidupan lain yang tak kalah penting untuk dilihat. Para pedagang kecil yang setiap pagi membuka lapak dengan harapan sederhana. “semoga hari ini ada rezeki yang bisa dibawa pulang”.
Menjelang sore, satu per satu gerobak mulai ditutup. Wajan martabak diangkat dari tungku, etalase jenang kembali dirapikan, dan gerobak pentol perlahan didorong pulang. Para peziarah membawa oleh-oleh dan doa, sementara para pedagang membawa harapan yang sama: esok pagi, langkah-langkah baru kembali memenuhi pelataran Menara Kudus.
KELOMPOK 3 :
Muhammad Iqbal Saputra | Adonia Najla Raissa | Muhammad choiruzzakya | Zahrotun nisa | Nadya Meydina Anugerah | Vania Syahda ardelia
![Masjid Al-Aqsha Menara Kudus [doc. Asna Maulana]](https://pelajarkudus.com/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-06-at-14.01.33.jpeg)








Leave a Review