BUKAN SEKEDAR BANGUNAN TUA

PelajarKudus.com_Pagi itu, di balik keramaian kota yang bergelar terkaya di Jawa Tengah, berdiri bangunan yang terbuat dari tumpukan bata merah yang sarat akan budaya. Menara kudus selalu punya cara mengundang langkah para peziarah. Sebagian menggenggam tasbih, sebagian lagi menuntun anak-anak mereka menyusuri lorong menuju kompleks makam Sunan Kudus. Di tengah keramaian itu, Wiraushodiq berdiri sejenak, menatap menara yang menjulang kokoh. Bagi pria asal Donomulyo, Malang, itu bukan sekadar bangunan tua. Ada pelajaran yang ingin ia wariskan kepada generasi setelahnya.

Sebagai guru sekaligus pembimbing di MTsN Nubhutiya Donomulyo, Wiraushodiq datang bersama rombongan siswa dalam kegiatan ziarah tahunan yang rutin dilakukan sejak 2019. Perjalanan ratusan kilometer menuju Kudus, bukan semata-mata untuk berwisata religi, melainkan menghadirkan sejarah secara nyata di hadapan anak didiknya.

“Alasan jauh-jauh datang ke sini yaitu untuk mengenalkan salah satu Walisongo yang perlu mereka ketahui (anak didik). Walaupun cuma sekadar ziarah, ini akan membuka kesempatan bagi generasi mereka untuk menggali lebih dalam siapa sebenarnya Sunan Kudus,” ujarnya saat ditemui tim (23/06). 

Baginya, Sejarah akan lebih mudah dipahami ketika siswa dapat menyaksikan langsung tempat yang menjadi saksi perjalanan dakwah Islam di Nusantara. Menara Kudus menjadi ruang belajar terbuka yang memperlihatkan bukti masa lalu yang terasa begitu dekat dengan kehidupan hari ini.

Tatapan Wiraushodiq kemudian tertuju pada susunan bata merah yang membentuk tubuh menara. Kekagumannya bukan hanya pada usia bangunan itu, tetapi juga pada teknik pembangunannya yang tetap kokoh meski telah melewati ratusan tahun.

“Secara akal, bangunan ini seperti gak masuk akal. Coba lihat batu merah ditata seperti itu tanpa adanya pelekat. Tapi kenapa kok bisa sekokoh itu? Ini sangat menarik. Atas kuasa Allah, siapa pun yang diberi kekuasaan tentu bisa melakukan hal di luar nalar manusia, termasuk Sunan Kudus,” tuturnya dengan mata berbinar-binar. 

Di balik kekaguman itu, Wiroushodiq melihat lebih dari sekedar kemegahan arsitektur. Bentuknya yang menyerupai candi menjadi bukti bagaimana Sunan Kudus menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Perpaduan unsur Hindu dan Islam yang tetap terjaga hingga kini mengajarkan bahwa dakwah dapat berjalan berdampingan dengan penghormatan terhadap tradisi masyarakat setempat.

Bagi Wiraushodiq, Menara Kudus membuktikan bahwa sebuah bangunan dapat menjadi lebih dari sekadar peninggalan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa toleransi, kebijaksanaan, dan kearifan lokal pernah tumbuh berdampingan. Nilai-nilai itulah yang ingin ia bawa pulang, agar tidak berhenti di pelataran menara, tetapi terus hidup dalam ingatan dan cara pandang generasi muda.

KELOMPOK 4 :
Aulia Khoirotun Hisan | Bilqis Fathiyyatul Husna | risma juliana | Abbas Burhannuddin | Putra Ali Zainal Abidin