Pelajarkudus_Nahdlatul Ulama Kabupaten Kudus menggelar Ziarah Pendiri dan Penggerak NU dalam rangka Haul ke-68 KHR Asnaw, bertepatan pada Hari Ahad, 14 November 2025, di Area Makam KHR. Asnawi. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Banom NU se-Kabupaten Kudus, mulai dari NU, Muslimat, Fatayat, GP Ansor, hingga IPNU-IPPNU, serta warga Nahdliyin dari berbagai wilayah.
Kegiatan ziarah ini menjadi momentum penting untuk mengenang sekaligus meneladani perjuangan KHR Asnawi, ulama besar yang dikenal sebagai pendiri dan penggerak utama Nahdlatul Ulama di Kudus.
Mewakili PCNU Kudus, KH. Ahmad Hamdani Hasanudin, Lc., MA dalam sambutannya, mengajak seluruh peserta untuk “Bade sareng-sareng ngeling-eling perjuanganipun Mbah Asnawi”, mengingat kembali jasa, keteladanan, dan semangat perjuangan KHR Asnawi dalam membangun umat.
KH. Hamdani juga menyampaikan biografi singkat KHR Asnawi, menegaskan peran beliau sebagai ulama pejuang yang tidak hanya mendidik umat melalui ilmu, tetapi juga melalui keteladanan sikap dan laku hidup.
“Monggo kita semua niru apa yang sudah dilakukan Mbah Asnawi dan meneruskan apa yang sudah beliau perjuangkan,” imbuhnya.
Puncak acara diisi dengan Pitutur Luhur oleh KH. Ahmad Nadhif Abdul Mudjib, Lc., ME. Dalam mauidzahnya, beliau menekankan pentingnya pendidikan holistik, yakni pendidikan yang menyeluruh dan tidak berhenti pada aspek akademik semata.
Haul pada tahun ini mengangkat tema “Mulat Ngelmu lan Laku”, bahwa ilmu sejatinya harus berpengaruh pada sikap dan perilaku. Ilmu yang hanya dipelajari sebagai pengetahuan tanpa diarahkan menjadi laku, menurut beliau, akan kehilangan manfaatnya.
Beliau juga menyampaikan, bahwa tema haul tahun ini sangat relevan dengan kondisi umat saat ini, di mana banyak orang memiliki pendidikan tinggi namun belum mampu menghadirkan etika dan tanggung jawab sosial dalam kehidupannya.

Ilmu dan Khashyah
KH. Nadhif mengutip sebuah kaidah penting:
اَلْعِلْمُ إِذَا قَارَنَتْهُ الْخَشْيَةُ فَلَكَ، وَإِلَّا فَعَلَيْكَ
”Ilmu itu, apabila disertai rasa takut (khashyah) kepada Allah, maka ia akan bermanfaat bagimu. Namun jika tidak, maka justru akan menjadi bencana bagimu.”
Menurut beliau, ukuran kebermanfaatan ilmu bukan semata pada tingginya gelar akademik, melainkan sejauh mana ilmu tersebut mampu menumbuhkan khashyah, etika, dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Beliau juga menyinggung realitas organisasi dan umat hari ini, termasuk kritik terhadap dinamika di tubuh PBNU, di mana tidak sedikit orang berpendidikan tinggi namun enggan duduk bersama memikirkan masa depan umat, bahkan justru saling berselisih.
Meneladani KHR Asnawi
Haul ke-68 KHR Asnawi ini menjadi pengingat bahwa perjuangan ulama terdahulu tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dilanjutkan. Ilmu, sebagaimana dicontohkan Mbah Asnawi, harus menjelma menjadi akhlak, pengabdian, dan keberpihakan kepada umat. Melalui kegiatan ziarah dan pitutur luhur ini, warga Nahdliyin diajak untuk kembali merefleksikan hakikat ilmu: bukan sekadar pengetahuan, melainkan jalan menuju ketakwaan dan kemaslahatan bersama.
Penulis : rif’an
Editor : nhy
![Masjid Al-Aqsha Menara Kudus [doc. Asna Maulana]](https://pelajarkudus.com/wp-content/uploads/2021/10/WhatsApp-Image-2021-10-06-at-14.01.33.jpeg)







